Skip to main content

Posts

Rumit

Dia menyayangimu dengan rumit. Entah sayang yang bagaimana. Seperti teh yang tidak butuh banyak gula untuk dibilang enak, ia hanya perlu cukup. Dia menyayangimu dengan tidak sederhana. Tidak banyak, tidak sedikit. Hanya, kamu seperti utara baginya - yang menganggap dirinya adalah jarum kompas. Dan kamu adalah laut, tempat paling sempurna baginya untuk hanyut. Picture: Google

Menunggu Hujan

#PeopleAroundUs - day 5 Dialog dengan seseorang di sekitarku hari ini. "Sedang apa?" "Menunggu hujan reda." "Tanpa ditunggupun ia akan reda." "Jadi?" "Nikmati saja." ... Sama seperti mengkhawatirkan hal-hal yang sudah pasti di tangan Tuhan. Tidak perlu. :)

Kompas

Masih di meja dan jendela yang sama. Aku jarum kompas dan kamu utara. Masih di sana dan bersama dia yang sama. Kamu pukul 06.00 dan aku lensa. picture: www.flickr.com

Dua Februari

Hari ini. Jari-jari tanganku dan kamu sudah cukup menghitungnya. Tinggal hitungan jari tangan. Lalu hari itu tiba. Hari melihat ke kotak surat. Dan bertanya, "apa Tuhan sudah membalasnya?"

a r o m a

Beberapa jam yang lewat, aku mengirim pesan ke Tika (baca: ketika). Terhitung sudah kali kedua kami melakukan ritual saling memberi Pekerjaan Rumah (PR). Lima hari sebelumnya, Tika memberiku PR sebuah kode. Aku memecahkannya dan bahagia. Dia memang ahli membuat orang lain bahagia dengan cara yang aneh. Aneh masih berarti pujian bagiku. Aku tidak mengerti, apa bahagia karena bisa memecahkan kode itu, atau bahagia membaca arti kodenya. Mungkin ini adalah kelipatan. Lihat, betapa Tuhan sangat baik. :) Dalam pesan tersebut aku memberinya PR, untuk membuat sebuah puisi dengan tema 'Lelaki Beraroma Sesuatu'. Sebenarnya aku terinspirasi dari seorang tokoh novel bernama Akshara yang memberi penilaian pada laki-laki berdasarkan aromanya. Ialah Novel Kala Kali, bagian Bukan Cerita Cinta, karangan Windy Ariestanty Ini dia puisinya. Jangan paksakan diri menyimaknya. Hanya perlu membacanya pelan, seirama detik jam - detak jantung - hela napas. Ia lahir dari 60 menit di hari jum'a...

Cerita Hari Ini yang Tak Sama

Rasanya baru kemarin, aku bercerita tentang hari ini, hari yang masih esok saat beberapa waktu yang lama. Aku membayangkan hari ini akan ada cerita itu, tapi yang terjadi bukan cerita yang sama. Dulu, aku membayangkan akan ada cerita-cerita kecil tentang dia, mereka, atau kita. Tapi kemudian aku sadar, mungkin itu bukan hal kecil, karena sulit terjadi pada hari ini. Dulu, aku membayangkan kalau hari ini aku akan berada di tempat itu, tapi sekarang aku di sini - di tempat yang tak sama. Sekarang aku masih melakukannya, membayang-bayangkan tentang hari yang masih esok. Cerita bayangan yang mungkin hanya akan tertinggal di pikiran, tapi sangat ku harapkan benar-benar terjadi di kehidupanku. Aku pikir ini tidak hanya terjadi padaku, tapi juga yang lain. Tapi hari ini kita bersikap seadanya, bersikap bahwa hari ini telah berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dan semakin tua, kita semakin realistis. Dengan umur segini, kita sudah tidak memenuhi syarat untuk cita-cita yang i...

Dialogi

"Hai mercusuar hati." ..... "Kita pernah 'kan kehabisan dialog seperti ini?" "Iya, pernah." "Selama apa?" "Selama yang kita bisa." "Kapan berdialog lagi?" "Sampai kita berhenti bisa." "Kapan itu?" "Tidak sekarang." "Aku kangen." "Aku lebih." "Kenapa kehabisan dialog? Tuhan belum tulis?" "Sudah, tapi waktunya belum tiba." "Baiklah." "Persiapkan dirimu." "Untuk?" "Dialog terbaik kita." *** picture: http://indianblogworld.com/wp-content/uploads/2010/01/adult-child-hold-hands.jpg