Skip to main content

Posts

Dialogi

"Hai mercusuar hati." ..... "Kita pernah 'kan kehabisan dialog seperti ini?" "Iya, pernah." "Selama apa?" "Selama yang kita bisa." "Kapan berdialog lagi?" "Sampai kita berhenti bisa." "Kapan itu?" "Tidak sekarang." "Aku kangen." "Aku lebih." "Kenapa kehabisan dialog? Tuhan belum tulis?" "Sudah, tapi waktunya belum tiba." "Baiklah." "Persiapkan dirimu." "Untuk?" "Dialog terbaik kita." *** picture: http://indianblogworld.com/wp-content/uploads/2010/01/adult-child-hold-hands.jpg

Letter to Canopus

Dear Canopus, Aku ingin menjadi Miaplacidus atau Avior Agar selalu bersama kamu, membentuk rasi Carina Langit adalah lautan kita Kemudian kita berlayar dengan kapal Argo Dari Lolkos ke Kolkis untuk mencari bulu domba emas Pasti menyenangkan bersama kamu menjadi Argonaut Tapi kan itu mimpi, ya? Canopus, Sejatinya kamu bintang dan aku bukan Aku melihatmu dari sini dan di sana kamu tidak pernah tahu Di sini banyak cahaya yg terang, sedang aku redup Pasti tak terlihat dari atas sana, iya kan? Hari ini kita memasuki pintu Oktober Seperti kamu, aku juga tidak sabar tiba di rumah Desember Dan semoga di persinggahan November kita dapat dekat Maka aku berdoa sepenuh Oktober Kamu tidak sabar untuk tiba pada Desember Karena di bulan itu, kamu tampak lebih terang, Canopus... Tanpa penutup_ picture: http://www.bethjones.net/wp-content/uploads/2011/03/girl-looking-at-night-sky.jpg

Rumah Belanda dan Kue Ombus-ombus

Dulu, sewaktu aku kecil, aku sering bermain ke tempat yang jauh-jauh, angker-angker. Tapi aku gak takut, selama gak sendirian. Di belakang rumah, ada jalan menuju rumah besar peninggalan Belanda, yang masih dihuni sama orang. Aku sering main ke rumah itu. Ada juga rumah peninggalan Belanda yang sudah gak layak huni lagi, rumahnya udah rapuh, bolong-bolong, aku juga sering main di sini, aku dan teman-teman menyebutnya “rumah angker”. Nah, di rumah yang masih ada penghuninya itu, tumbuh sebuah pohon beringin tua yang besaaar sekali di halaman rumahnya yang juga gak kalah besar (waktu aku kecil ya keliatannya besar banget, tapi gak tau ya kalau sekarang apa masih kelihatan besar atau enggak). Kami (aku dan temanku) mainnya di bawah pohon itu, di antara lekuk-lekuk pohon yang masih muat di isi oleh satu atau dua tubuh kami.

Kita Tidak Menunggu Apa-apa

Ku bilang aku ingin pergi. Lalu kau jawab, “Sebentar lagi ya...” Kita menunggu . Entah untuk apa. Kemudian hujan turun. “Aku ingin pergi.” Kukatakan lagi seperti itu. “Tunggu hujan reda.” Sahutmu. Kita menunggu . Kali ini menunggu hujan reda. Dan setelah hujan reda, ku katakan lagi aku ingin pergi. Dengan senyum kecil kau menjawab. “Tunggu sampai pelangi itu benar-benar pudar.” Sejurus kemudian mata kita sama-sama menangkap pelangi. Kita menunggu . Menunggu sampai pelangi sewarna dengan langit. Perlahan matahari muncul lagi, selimuti bumi dengan hangatnya. “Aku sudah bisa pergi?” tanyaku.

Aku dan Papercraft

Aku sebagai manusia kelahiran Pebruari 1993, punya lumayan banyak hobi. Salah satunya adalah hobi melipat kertas. Sekitar tahun 2011, aku mulai suka bikin-bikin papercraft. Mulai dari yang bentuk-bentuknya cube. Karena lucu, aku terus download-in pola-polanya. Jadi, pertama kali aku nemu website boneka kertas yang bentuknya cube itu, aku sampai gak tidur, dan baru tidur setelah selesai subuh. Sangking interested nya sama sesuatu ini. Hahaha Ya sudahhh, untuk mem- publish hasil guntingan/lipatan/tempelan yang pernah aku buat di blog, ku lakukan dengan senang hati. Inilah mereka, papercraft-papercraft buatan aku yang tak seberapa (but, I’m not the designer).

Monolog GIE

Aku tak tahu mengapa, aku merasa agak melankolik malam ini. Aku melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra, tapi kosong. Seolah-olah aku merasa diriku yang lepas, dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasaiku, aku ingin memberikan suatu rasa cinta pada manusia. http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150213566211953 pict source: http://farm2.staticflickr.com/1205/1400438113_8e3bdf22b5_z.jpg

Surat Soe Hok Gie - Film Gie

Untuk Herman di Irian, Herman, terimakasih untuk surat darimu yang tak pernah berhenti datang. Saya sangat membutuhkan teman bicara akhir-akhir ini. Menulis pun rasanya capek luar biasa, atau mungkin saya sedang muak dan tidak punya inspirasi. Waktu cepat berlalu, teman-teman kita makin banyak yang meninggalkan sastra. Saya benar-benar merindukan masa di mana saya, kamu, Ira, Deni, dan teman-teman lain tertawa, bertengkar, atau sekedar ngobrol. Memang Ira masih di sini, menjadi asisten dosen sejarah Indonesia, tapi kami masih rikuh untuk bicara, tentu kamu mengerti sebabnya. Sastra telah banyak berubah. Banyak teman-teman dosen yang tidak punya dedikasi dalam pekerjaannya dan membuat mahasiswa tidak kalah malasnya. Ini hanya salah sutu contoh dari banyak kebobrokan di almamater ini yang selalu saya persoalkan. Banyak yang mengeluh saya keras kepala dan selalu mencari masalah. Biarlah, lebih baik saya diasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan. Saya akan membuat tulisan tentang in...