Skip to main content

Posts

Untuk Kerinduan yang (mungkin) Akan Datang

Manusia sering egois pada ekspektasi tentang perpisahan. Tentang rindu yang akan datang setelahnya, Atau tentang keadaan yang akan berbeda. Padahal kesedihan belum tentu membesar Dan kebahagiaan belum tentu mengecil setelah perpisahan. Mungkin kita akan rindu, tapi juga akan ada kabar yang mengobati. Mungkin kita akan rindu, tapi juga akan ada kesibukan yang menutupi. Mungkin kita akan rindu, tapi juga akan ada doa-doa yang meretas sedih. Tegarlah hati-hati yang sering berteman kerinduan, rindu tidaklah seberat itu.. Pic : Pinterest

Post of December

It's december 2017, and it's only 25 days more till we meet 2018, and how old are you in that year? I'm getting older and I'm tired having anxiety about almost everything. Often sad. But honestly I can be happy easily. Warn you that this will be a very little sharing about me. It can't be more important than your lunch, yet can be as warm as a pair of gloves cover your hands in December. Well, I can be happy just by watching drama, eating nice food, buying useful stuff, staying away from bad people, and having good people around me. All those things can bring back my good mood. Humans are disparate, because everyone consumes different things. I've found a quote in a photo's caption while scrolling instagram, sounds like this: "an entire ocean of water can't sink a ship unless it gets into the ship." that's why, what you consume matters. Food is a very close thing with life. Healthy food gives healthy life. We can't control de...

Salty Studio & The Stories of Those around Me

I've finished Salty Studio few days ago, and just like The Stories of Those around Me  I love it so much. These two webtoons were created by Omyo. They had common characters with realistic feelings and toughts. The problems were the usual problems that could easily appear in our lives but we have no idea what will be the end - since nothing is certain and

Environmental Journalism

On monday 28 august I joint an event held by an organization in my city. It's called 'Citizen Journalism Through Social Media' which in fact we discussed more about environmental journalism. The speaker comes from Montana University, his name is Matthew Frank. He is a journalism lecturer and also an environmental journalist. As my promise in my instagram , here I want to share what I've got from the event combining with my idea. The speaker comes from US, so he doesn't speak Bahasa. I don't speak English very well though and can't understand a hundred percent what the speaker said. Just probably eighty percent. Still, according to my opinion, language is not only about the sound made by the speaker but also the gesture and the willing of the people in conversation to understand each other.

H a l o .

Halo. Sudah lama sekali tidak membuat postingan di blog ini. Benar ya, mempertahankan eksistensi itu susah susah gampang. Pada akhirnya yang konsisten yang akan bertahan. Postingan sebelumnya  juga dibuat antara niat dan enggak. Kenapa? Mungkin karena aku tidak tahu harus memposting apa. Tidak ada bahan karena aku tidak membaca sebanyak dulu. Padahal ya, aku (masih) suka buku. Terlalu dalam dan banyak kegelisahaanku sehingga tidak mendorongku membuat satupun tulisan untuk blog ini. Alasan lain, aku sudah jarang main internet pakai laptop, sementara dari dulu kalau ngeblog selalu pakai laptop. Jadi kiriman kali ini akan berisi cerita tentang aku yang telah lama tidak mengisi dua cangkir yang seharusnya bisa kita nikmati bersama. Hahaha. Karena aku tidak ada bahan dan harus mempertahankan eksistensi blog duacangkir , maka dalam tempo singkat dibuatlah tulisan ini. Semoga – walaupun sepertinya tidak – tulisan ini memiliki faedah. Baiklah harus kita mulai dari mana? Bel...

Di Sebelah

Jika sudah ada kamu, aku tidak lagi butuh senja yang indahnya menggebu-gebu. Cukup senja dengan matahari yang terbenam di sebelah barat, dan kamu di sebelahku. Picture: http://www.blogjerry.com/archive/leslie-khahn-berkeley-marina-uc-berkeley-cafe-strada-engagem.html

Kisah Sepasang Manusia, Pertemanan, dan Dua Cangkir Kopi

Seperti sediakala, dari bangku taman ini tatapanku selalu mengutara, sebab dari sana perempuan itu akan muncul. Biasanya dengan setengah berlari atau berjalan cepat sambil memperhatikan jam tangannya. Dari jauh dia akan sudah melemparkan senyumnya untukku, isyarat agar memaklumi keterlambatannya. Aku selalu dapat mendengar ketukan sepatu hak tingginya yang beradu dengan paving blok jalanan lebih dulu, disusul dengan aroma parfumnya. Hari ini ia tampak kasual dengan kaos putih, jeans biru, dan scarf abu-abu yang membebat lehernya. Begitupun denganku yang mengenekan Oxford shirt biru muda dan celana khaki coklat. Aku dan dia memang lebih memilih berpenampilan sederhana dan nyaman. “Kita ngopi di mana, Nik?” Tanyanya. Namanya Naura, kupanggil juga demikian. Kami sudah berteman sebanyak empat puluh delapan cangkir kopi. Kami menghitung usia pertemanan dengan jumlah cangkir kopi yang sudah kami habiskan bersama – berdua saja. Kurang lebih sudah enam tahun mengenalnya dan tiga...